begadang : sebuah prosa

Tak tik tuk.

Tak tik tuk, suara jam di dinding mematuk.

Tak tik tuk.

Sunyi sepi menyanyi di malam berkabut.

 

Pelan, dan dengan perlahan, kubuka daun pintu kamar
kos-ku dengan hati-hati, takut membangunkan kamar sebelahku.

 

Ini sudah jauh ditengah malam, hampir dekat pagi
menjelang. Apa kata mama kalau ia tahu putri kesayangannya pulang begini larut?
Diantar pemuda berjanggut pula. Persetan.

 

Kuhempaskan tubuhku diatas kasur per yang masih teratur
rapi. Tiada sedikitpun rasa kantuk hinggap di pelupuk mataku. Tak ada keinginan
sedikitpun mataku untuk berpejam mengumpulkan tenaga, walau badan rasa hampir
terlepas semua tulangnya.

 

Tak tik tuk.

Jam burung hantu mematuk-matuk.

Hampir jam 2.

 

Dan aku masih terjaga di sini. Kamar kecil apak yang
harga sewanya membuatku susah berhemat. Hah, hari yang cukup melelahkan. Semua
keadaan serasa tak bisa lebih buruk. Hidup itu menyebalkan.

 

Tak tik tuk.

Jarum sudah hampir bertengger di angka setengah 2.

 

Mataku masih susah terpejam.

 

Ada apa denganku sih? Biasanya insomnia tak pernah
mampir. Padahal besok masih banyak kegiatan. Sialan.

 

Kupejamkan mata. Mencoba paksa tidur.

 

1 menit

 

2 menit

 

4 menit

 

10 menit

 

Tak tik tuk.

Pak burung hantu masih terus mematuk.

Jarum sudah berhenti tepat di angka 2.

 

Cukup sudah! Mata sialan!

 

Mungkin segelas susu hangat bisa membantu agar dapat
terlelap. Kulangkahkan kaki menuju dapur umum. Meracik segelas susu cokelat
hangat. Membawanya kembali ke kamar.

 

Menyereputnya perlahan.

 

Ehm….nyamannya…

 

Srupuut…begitu bunyinya.

 

Tandas sudah ‘obat tidur’ andalan.

 

Kuletakkan lalu gelas itu di atas meja kecil disamping
tempat tidurku. Kupejamkan mata. Berusaha terlelap dalam mimpi.

 

Tak tik tuk.

Tak tik tuk.

Tak tik tuk.

Detik-detik penanda pergantian detik hanya membuatku
mengedik!

 

Tak berhasil. Mataku masih dengan cueknya membuka. Tak
peduli akan keadaan tuannya yang sudah porak poranda mengemis kesempatan tidur.

 

Aku haru menghitung domba.

 

1 domba

 

2 domba

 

3 domba

 

. . .

 

27 domba

 

~

 

43 domba

 

tak berhasil.

 

Tak tik tuk.

Jam bernyanyi menandakan subuh telah datang.

 

Terus kupaksa berhitung. Putus asa akan kemampuan
sialanku membuka mata. Aku sungguh tak butuh begadang hari ini.

 

Tak tik tuk.

Jam 6 akhirnya datang.

 

Menghancurkan kantuk yang jua tak kunjung datang.

Aku bangun dari spring bed kesayangan. Membuka pintu
untuk menghirup udara segar pagi hari. Berharap mata tak akan tercetak kantung
besar.

 

Oh, bagus.

Bahkan udara pagipun tak dapat kunikmati dengan nyaman.
Mobil siapa itu? pagi-pagi sudah bikin polusi saja.

 

Kini pagi sudah menjelang. Memberiku 1 hari lagi untuk
berkutat dengan kepedihan. Memberiku banyak lagi waktu menyebalkan. Untuk lagi
disiksa dalam kemelut begadang…

by:

ameL

3 Responses to “begadang : sebuah prosa”

  1. cici IRENE Says:

    oh jadi tadi lo telat isglob ampir setenga jem gara2 bunyi tak tik tuk???

    saran gw:
    GANTI AJA MEL JEM LO supaya bunyinya ga tak tik tuk lagi!!
    jadi kan lo bisa tidoor cepet… gampank kan????

    huahahhahahahahahhahaahhahaha *gubrak*

  2. amelia rhea Says:

    anjit….gw bua ni prosa uda lama nyet…pas jaman sma…baru aj gw publish skarang..hahaha

  3. Sunny Says:

    apa iniiii

Leave a Reply